Poin Penting:
- Hampir 90 sekolah dan 600 siswa di seluruh dunia terdampak deepfake telanjang berbasis AI
- Pelaku umumnya remaja laki-laki yang mengunduh foto media sosial teman sekelasnya
- Korban mengalami trauma berat, takut hadir ke sekolah, bahkan kehilangan nafsu makan
- Banyak sekolah dan aparat hukum belum siap menangani kasus semacam ini
- Beberapa negara mulai bergerak melarang aplikasi “nudifikasi” yang dipakai para pelaku
Bayangkan foto profil Instagram kamu diunduh oleh teman sekelas, lalu diubah menjadi foto telanjang palsu menggunakan aplikasi AI, dan dalam hitungan jam sudah menyebar ke seluruh angkatan. Mengerikan? Ya. Dan ini bukan skenario fiktif. Ini sudah terjadi di hampir 90 sekolah di seluruh dunia.
Laporan terbaru dari WIRED dan Indicator, publikasi yang berfokus pada penipuan digital, mengungkapkan data yang bikin bulu kuduk merinding. Setidaknya 600 siswa di 28 negara sudah menjadi korban deepfake seksual berbasis AI sejak 2023. Dan ini baru yang berhasil terdeteksi dan dilaporkan secara publik.
Bagaimana Ini Bisa Terjadi?
Semuanya biasanya dimulai dari foto biasa di media sosial. Remaja laki-laki mengunduh gambar teman perempuan mereka dari Instagram atau Snapchat, lalu menggunakan aplikasi “nudify” atau “undress” untuk menciptakan foto atau video telanjang palsu. Prosesnya? Hanya butuh beberapa klik, tanpa keahlian teknis apapun.
Inilah yang membuat masalah ini berbeda dari ancaman digital sebelumnya. Seperti yang diungkapkan Siddharth Pillai, salah satu pendiri RATI Foundation di Mumbai, hambatan teknisnya sudah turun drastis. Siapapun, termasuk remaja sekolah, kini bisa menghasilkan gambar yang meyakinkan dengan usaha minimal. Hasilnya adalah banjir konten yang sulit dibendung.
Konten semacam ini masuk kategori materi pelecehan seksual anak atau CSAM, dan secara hukum ini serius. Tapi sayangnya, kesadaran hukum itu belum merata, baik di kalangan pelaku, sekolah, maupun aparat.
Dampaknya pada Korban Sungguh Menghancurkan
Kalau kamu pikir ini “cuma foto palsu”, pikir ulang. Dampak psikologisnya sangat nyata. Salah satu korban di Iowa mengaku tidak berani menatap wajah teman-temannya karena takut mereka terus mengingat foto itu. Keluarga korban lain menggambarkan anaknya menangis terus-menerus dan tidak mau makan.
Banyak korban akhirnya menolak pergi ke sekolah karena tidak sanggup bertemu dengan orang yang menciptakan gambar itu. Lebih tragis lagi, seorang remaja di New Jersey yang diwakili oleh tiga mahasiswa hukum Yale harus menanggung beban psikologis seumur hidup, karena ia tahu gambar itu bisa tersebar ke mana saja, termasuk ke tangan pelaku kejahatan seksual terhadap anak.
Motivasi pelaku pun beragam. Menurut peneliti dari Thorn, sebuah lembaga perlindungan anak, ada yang didorong hasrat seksual, rasa ingin tahu, balas dendam, bahkan hanya ikut-ikutan tantangan dari teman. Yang paling mengkhawatirkan, tujuannya semakin bergeser ke arah penghinaan dan kontrol sosial, bukan sekadar kepuasan seksual.
Sekolah dan Aparat Masih Ketinggalan
Di sinilah masalah semakin kompleks. Respons dari sekolah dan penegak hukum masih sangat bervariasi dan sering kali tidak memadai. Ada kasus di mana butuh tiga hari bagi sekolah untuk melaporkan insiden ke polisi. Di kasus lain, korban mengklaim pelaku tidak mendapat konsekuensi langsung apapun.
Di Pennsylvania, dua siswa baru mengakui perbuatan mereka di pengadilan anak dan divonis 60 jam kerja sosial atas tuduhan terkait CSAM, setelah menciptakan gambar dan video 60 siswi perempuan. Sebuah hukuman yang bagi banyak pihak terasa tidak sepadan dengan kerusakan yang ditimbulkan.
Evan Harris, mantan guru yang kini menjalankan pelatihan untuk sekolah-sekolah di Amerika Serikat, menyebut sekolah perlu mempersiapkan diri dari berbagai sisi, mulai dari edukasi siswa soal bahaya dan ilegalitas deepfake, hingga melatih administrator sekolah dalam pengumpulan bukti digital.
Beberapa sekolah di Korea Selatan dan Australia bahkan sudah mengambil langkah pencegahan ekstrem: menghentikan penggunaan foto siswa di buku tahunan dan akun media sosial resmi sekolah. Sebagai gantinya, mereka menggunakan siluet, foto dari belakang, atau gambar stok yang disetujui.
Siapa yang Bergerak Lebih Cepat?
Ironisnya, justru para remaja perempuan dan keluarga mereka yang sering kali bergerak lebih cepat dibanding politisi. Mereka mengorganisir walkout, memprotes pelaku, membuat kursus pelatihan online, bahkan berkontribusi pada lahirnya undang-undang baru.
Salah satunya adalah Take It Down Act di Amerika Serikat, yang mewajibkan platform teknologi untuk menghapus gambar intim tanpa persetujuan dalam waktu 48 jam. Di Inggris dan Uni Eropa, proses pelarangan aplikasi nudifikasi sedang berjalan. Australia pun sudah mengambil tindakan terhadap beberapa layanan serupa.
Meski begitu, skala masalahnya masih jauh melampaui respons yang ada. Unicef memperkirakan 1,2 juta anak memiliki deepfake seksual yang diciptakan dari gambar mereka hanya dalam setahun terakhir. Di Spanyol, satu dari lima anak muda mengaku pernah menjadi korban.
Tanya Horeck, profesor studi media feminis dari Anglia Ruskin University yang meneliti deepfake di sekolah-sekolah Inggris, mengingatkan bahwa ini bukan semata soal teknologi. Ini tentang dinamika gender yang sudah lama ada dan terus memfasilitasi kejahatan semacam ini.
Teknologi AI memang tidak menciptakan masalah ini dari nol, tapi ia memberikan kecepatan, skala, dan aksesibilitas yang belum pernah ada sebelumnya. Dan selama aplikasi nudifikasi masih bisa diakses dengan bebas, selama foto anak-anak masih tersebar di media sosial, krisis ini tidak akan berhenti dengan sendirinya.
Artikel ini ditenagai oleh Kecerdasan Buatan dari berbagai sumber terpercaya lokal dan Internasional. Untuk harga barang alangkah baiknya dicek langsung di eCommerce lokal atau internasional.





