Poin Penting:
- Ditenagai chip Apple A18 Pro dari iPhone 16 Pro
- Desain aluminium premium, bobot hanya 1,24 kg
- Layar 13 inci Liquid Retina 500 nits tanpa notch
- Harga mulai Rp 9.700.000-an (setara $599)
- Cocok untuk pelajar dan pekerja ringan, kurang ideal untuk kreator berat
- Baterai sekitar 7,5 jam pemakaian nyata
- Tidak ada keyboard backlit dan MagSafe
Pernah nggak sih kamu ngerasa kalau MacBook itu “bukan untuk gue”? Kayak barang mewah yang cuma bisa dilirik dari jauh, sementara kamu terpaksa puas sama laptop plastik Windows yang harganya memang lebih terjangkau tapi… ya gitu deh kualitasnya. Nah, Apple sepertinya dengar keluhan itu. Hasilnya? MacBook Neo, laptop yang bikin kita semua bertanya-tanya: “Ini nyata atau gue lagi mimpi?”
Beebom udah nyoba MacBook Neo ini selama seminggu penuh, dan hasilnya cukup mengejutkan. Yuk kita bedah satu per satu.
Desain yang Bikin Melongo
Hal pertama yang bakal kamu rasain waktu buka kotaknya: “Woah, ini beneran Rp 9 jutaan?” Serius, desainnya identik sama MacBook Air yang harganya hampir Rp 16 jutaan lebih mahal. Bodi aluminium alloy, tekstur metal yang lembut, dan tersedia dalam empat warna menarik yaitu Indigo, Citrus (kuning), Blush (pink), dan Silver.
Bobotnya cuma 1,24 kg. Ringan banget untuk dibawa kemana-mana, bahkan bisa kamu angkat dengan satu tangan sambil telepon di tangan lainnya. Engsel layarnya juga tetap terasa premium, bisa dibuka dengan satu jari tanpa drama.
Soal port, di sinilah kamu perlu sedikit bersabar. Hanya ada satu USB Type-C 3 (10Gb/s), satu USB Type-C 2 (480Mb/s), dan jack headphone. Tidak ada Thunderbolt, tidak ada MagSafe. Lumayan bikin nyesek memang, tapi ya… ini harga segitu lho.
Layar Bersih Tanpa Notch
MacBook Neo pakai layar 13 inci LCD Liquid Retina dengan resolusi 2408 x 1506 dan kecerahan 500 nits. Yang menarik? Tidak ada notch! Jadi tampilannya jauh lebih “bersih” dibanding MacBook Air atau Pro modern yang punya tonjolan kamera di atas layar.
Kekurangannya, karena tidak ada notch, otomatis tidak ada sensor cahaya ambient. Artinya tidak ada True Tone dan tidak ada indikator LED kamera. Tapi buat sebagian orang, ini justru nilai plus. Melihat notch di laptop memang terasa aneh, dan Neo hadir dengan bezel yang rapi dan wajar di sekelilingnya.
Kecerahan 500 nits cukup untuk dipakai di dalam ruangan, warung kopi, bahkan outdoor yang tidak terlalu terik.
Speaker dan Keyboard, Ada Kompromi di Sini
Nah, di bagian audio inilah terasa “pengurangan biaya”-nya. Dua speaker di kanan-kiri masih oke untuk pemakaian santai, tapi kurang dalam dan terasa sedikit cempreng saat volume penuh. Buat yang sudah terbiasa dengan speaker MacBook Air atau Pro, ini bakal terasa berbeda.
Keyboardnya adalah Magic Keyboard standar yang sama dengan MacBook lainnya, jadi kalau kamu udah familiar, langsung nyaman. Tapi ada satu hal yang cukup disayangkan yaitu tidak ada backlit alias lampu keyboard. Buat mahasiswa yang sering begadang, ini bisa jadi masalah nyata.
Trackpad-nya juga bukan haptic seperti MacBook modern, melainkan trackpad fisik yang beneran ditekan. Tidak ada Force Touch. Fungsional, tapi terasa “jadul” dibanding saudaranya yang lebih mahal.
Performa, Kejutan dari Chip iPhone
Inilah bagian yang paling kontroversial. Apple memasang chip A18 Pro dari iPhone 16 Pro ke dalam laptop ini. Banyak yang skeptis: masa chip HP bisa handle tugas laptop?
Jawabannya: bisa, tapi ada batasnya.
Untuk pemakaian sehari-hari seperti browsing dengan 24 tab, Slack, Spotify, dan Steam berjalan bersamaan? Lancar banget. Bahkan menurut Beebom, laptop Windows dengan spesifikasi serupa sudah akan terengah-engah di titik ini.
Hasil benchmark-nya pun cukup menarik: Geekbench single-core 3.482 dan multi-core 8.613. Nilainya berada di antara chip M1 dan M2, yang artinya masih sangat layak untuk 2026.
Tapi ketika dicoba sama desainer grafis untuk membuka file PSD dengan 200 layer di Photoshop? Langsung nge-lag parah. Baru bisa jalan lancar di 50 layer. Editing video 4K durasi pendek masih oke, tapi untuk proyek besar, kurang ideal. Gaming juga terbatas, Cyberpunk hanya bisa di 45 FPS dengan FSR aktif.
Kesimpulannya: MacBook Neo sempurna untuk pelajar, penulis, dan pekerja kantoran. Tapi kalau kamu kreator atau gamer serius, mending nabung lebih banyak.
Kamera dan Mic
Kameranya 1080p FaceTime, tapi sensornya lebih kecil dibanding kamera 12MP di MacBook Air terbaru. Hasilnya tetap jernih dan cukup untuk video call, tapi kadang wajah terlihat terlalu terang. Tidak ada Center Stage juga. Mikrofon masih bagus, tidak ada keluhan berarti.
Baterai dan Pengisian Daya
Apple klaim 11 jam, tapi pemakaian nyata dapat sekitar 7,5 jam dengan aktivitas campuran seperti nulis, browsing, editing ringan, dan musik. Masih oke untuk seharian kuliah atau kerja.
Yang sedikit bikin frustrasi adalah charger bawaannya hanya 20W. Pengisian dari 0 sampai 100% butuh beberapa jam. Bahkan saat dicoba dengan charger GaN 65W pun hasilnya tidak jauh berbeda, tetap sekitar 2 jam untuk penuh. Lumayan lama untuk era sekarang.
Harga dan Kesimpulan Cepat
MacBook Neo dibanderol mulai $599 atau sekitar Rp 9.700.000-an (harga bisa berbeda di Indonesia, cek di eCommerce lokal ya). Untuk harga segitu, kamu dapat bodi premium aluminium, layar Liquid Retina jernih, performa cukup untuk kebutuhan harian, dan ekosistem macOS yang sudah teruji.
Yang perlu kamu relakan: tidak ada backlit keyboard, tidak ada MagSafe, RAM hanya 8GB, dan performa terbatas untuk tugas berat.
Tapi sekali lagi, ini Rp 9 jutaan dengan kualitas “rasa MacBook” yang sesungguhnya. Untuk pelajar atau first-time buyer yang ingin masuk ekosistem Apple tanpa menguras kantong, MacBook Neo adalah pilihan yang sangat masuk akal per Maret 2026 ini.
Artikel ini ditenagai oleh Kecerdasan Buatan dari berbagai sumber terpercaya lokal dan Internasional. Untuk Harga barang alangkah baiknya di cek langsung di eCommerce lokal atau internasional.






