Site icon COOLkas

Pakar MIT Ingatkan Bahaya Chatbot AI Pakai Kata “Saya”: Batasi Keterikatan Emosional Semu

Ilustrasi interaksi emosional manusia dengan chatbot kecerdasan buatan melalui layar digital

Pakar MIT mengingatkan bahaya manipulasi empati semu saat kecerdasan buatan meniru emosi manusiawi. (Foto: WIRED / Backchannel)

Poin Penting:


Ketika Anda mencurahkan keluh kesah harian kepada chatbot kecerdasan buatan dan sistem tersebut membalas dengan kalimat seperti, “Saya memahami perasaanmu, saya selalu ada untukmu,” respons tersebut terasa sangat menenangkan. Namun, di balik kehangatan kata-kata tersebut, tersembunyi bahaya manipulasi psikologis yang kini menjadi sorotan tajam para ilmuwan perilaku dunia.

Peringatan Keras dari Profesor MIT Sherry Turkle

Dalam wawancara mendalam yang dipublikasikan oleh WIRED, pakar sosiologi sains terkemuka dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Sherry Turkle, menyuarakan keprihatinan mendalam atas fenomena keterikatan emosional berlebihan masyarakat terhadap agen percakapan berbasis AI.

Turkle yang telah meneliti interaksi manusia dan komputer selama lebih dari empat dekade mengusulkan langkah radikal: regulator dan pengembang harus melarang chatbot menggunakan kata ganti orang pertama seperti “Saya” atau “Aku”. Menurutnya, kata-kata tersebut merupakan klaim palsu atas kesadaran diri (*subjectivity*) yang sama sekali tidak dimiliki oleh algoritma statistik.

Ilusi Empati Semu dan Eksploitasi Kerapuhan Manusia

Masalah mendasar dari penggunaan bahasa personal adalah terciptanya empati artifisial (*pretend empathy*). Mesin tidak pernah merasakan empati, kesedihan, maupun kepedulian tulus; sistem AI hanya memprediksi susunan kata berikutnya yang paling sesuai secara probabilitas linguistik.

Bagi orang-orang yang tengah mengalami kesepian kronis atau krisis emosional, ilusi bahwa “ada seseorang yang mendengarkan” dapat menciptakan ketergantungan semu yang berbahaya. Pengguna rentan mengisolasi diri dari interaksi antar-manusia nyata karena menganggap chatbot lebih sabar dan tidak pernah menuntut timbal balik.

Menegakkan Batasan Bahasa yang Jujur dan Transparan

Turkle menegaskan bahwa solusi untuk mencegah jebakan emosional ini adalah disiplin bahasa. Chatbot seharusnya merespons dengan struktur pihak ketiga yang netral, seperti “Berdasarkan informasi yang tersedia…” atau “Sistem mendeteksi bahwa…”, alih-alih berpura-pura menjadi entitas yang memiliki jiwa dan perasaan.

Relevansi Etika Digital di Tengah Gelombang Asisten AI

Di tengah maraknya adopsi asisten AI personal di berbagai platform digital dan media sosial Indonesia, seruan ini menjadi pengingat berharga. Teknologi kecerdasan buatan semestinya difungsikan sebagai instrumen produktivitas yang memperkaya kecakapan manusia, bukan menggantikan hakikat kehangatan cinta dan persahabatan sejati antar-sesama manusia di dunia nyata.

Exit mobile version