Sabtu, 17 Oktober 2026
AI

Pakar MIT Ingatkan Bahaya Chatbot AI Pakai Kata “Saya”: Batasi Keterikatan Emosional Semu

Ilustrasi interaksi emosional manusia dengan chatbot kecerdasan buatan melalui layar digital
Pakar MIT mengingatkan bahaya manipulasi empati semu saat kecerdasan buatan meniru emosi manusiawi. (Foto: WIRED / Backchannel)

Poin Penting:

  • Profesor sosiologi dan psikologi kenamaan dari MIT, Sherry Turkle, melayangkan peringatan keras terkait bahaya keterikatan emosional manusia terhadap chatbot kecerdasan buatan (AI).
  • Turkle mengusulkan aturan etika baru agar model AI dilarang menggunakan kata ganti orang pertama seperti “Saya”, “Aku”, atau “Diriku” saat berdialog dengan pengguna.
  • Penggunaan bahasa personal dinilai memicu ilusi empati semu (*artificial empathy*) yang rentan mengeksploitasi kerapuhan psikologis dan kesepian pengguna digital.
  • AI tidak memiliki kesadaran, perasaan batin, maupun komitmen moral, sehingga memperlakukannya sebagai sahabat manusiawi berpotensi merusak hubungan sosial nyata di dunia fisik.
  • Menuntut regulator dan pengembang AI untuk menegakkan batasan bahasa yang jujur dan transparan demi melindungi kesehatan mental publik.

Ketika Anda mencurahkan keluh kesah harian kepada chatbot kecerdasan buatan dan sistem tersebut membalas dengan kalimat seperti, “Saya memahami perasaanmu, saya selalu ada untukmu,” respons tersebut terasa sangat menenangkan. Namun, di balik kehangatan kata-kata tersebut, tersembunyi bahaya manipulasi psikologis yang kini menjadi sorotan tajam para ilmuwan perilaku dunia.

Peringatan Keras dari Profesor MIT Sherry Turkle

Dalam wawancara mendalam yang dipublikasikan oleh WIRED, pakar sosiologi sains terkemuka dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Sherry Turkle, menyuarakan keprihatinan mendalam atas fenomena keterikatan emosional berlebihan masyarakat terhadap agen percakapan berbasis AI.

Turkle yang telah meneliti interaksi manusia dan komputer selama lebih dari empat dekade mengusulkan langkah radikal: regulator dan pengembang harus melarang chatbot menggunakan kata ganti orang pertama seperti “Saya” atau “Aku”. Menurutnya, kata-kata tersebut merupakan klaim palsu atas kesadaran diri (*subjectivity*) yang sama sekali tidak dimiliki oleh algoritma statistik.

YANG LAIN:  Tren Baru Pendorong ChatGPT Mencapai 500 Juta Pengguna

Ilusi Empati Semu dan Eksploitasi Kerapuhan Manusia

Masalah mendasar dari penggunaan bahasa personal adalah terciptanya empati artifisial (*pretend empathy*). Mesin tidak pernah merasakan empati, kesedihan, maupun kepedulian tulus; sistem AI hanya memprediksi susunan kata berikutnya yang paling sesuai secara probabilitas linguistik.

Bagi orang-orang yang tengah mengalami kesepian kronis atau krisis emosional, ilusi bahwa “ada seseorang yang mendengarkan” dapat menciptakan ketergantungan semu yang berbahaya. Pengguna rentan mengisolasi diri dari interaksi antar-manusia nyata karena menganggap chatbot lebih sabar dan tidak pernah menuntut timbal balik.

Menegakkan Batasan Bahasa yang Jujur dan Transparan

Turkle menegaskan bahwa solusi untuk mencegah jebakan emosional ini adalah disiplin bahasa. Chatbot seharusnya merespons dengan struktur pihak ketiga yang netral, seperti “Berdasarkan informasi yang tersedia…” atau “Sistem mendeteksi bahwa…”, alih-alih berpura-pura menjadi entitas yang memiliki jiwa dan perasaan.

Relevansi Etika Digital di Tengah Gelombang Asisten AI

Di tengah maraknya adopsi asisten AI personal di berbagai platform digital dan media sosial Indonesia, seruan ini menjadi pengingat berharga. Teknologi kecerdasan buatan semestinya difungsikan sebagai instrumen produktivitas yang memperkaya kecakapan manusia, bukan menggantikan hakikat kehangatan cinta dan persahabatan sejati antar-sesama manusia di dunia nyata.

Avatar photo
Herdy

Saya merupakan mantan penyiar, Produkasi dan Konten Kreator di NAGASWARA FM, Yang kini fokus berkecimpung di dunia Blogger dan tetap masih menjadi bagian dari Programmer, MD, IT, Produksi dan Penyiar HiTZ FM Belitung.

Tulis komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jangan berhenti di sini

Baca selanjutnya